Selasa, 25 Mei 2010

Jumat, 07 Mei 2010

Tugas Proyek 2

Proyek ini adalah kelanjutan dari tugas proyek kecil yang telah diposkan bulan February lalu. Dalam tugas proyek ini disertakan lampiran data yang dihasilkan dari observasi, testimoni, dan juga anggaran biaya yang dipakai untuk observasi yang kami lakukan ini. Untuk melihat lebih lanjut klik proyek. Dalam proyek ini disertakan juga video sewaktu observasi berlangsung, jika berkenan untuk melihatnya klik video 1, video 2, dan video foto, serta slide dalam bentuk rar.

Anggota kelompok L:



7 Mei 2010
Kelompok L

Kamis, 15 April 2010

Perbedaan Pandangan Masyarakat Indonesia dan Inggris terhadap pendidikan anak usia dini;Tugas Kelompok L

Perbedaan cara pandang masyarakat Indonesia dan Inggris akan pendidikan anak usia dini mengubah pemikiran masing-masing akan pentingnya pendidikan anak usia itu sendiri. Masyarakat Indonesia sendiri, secara rata-rata, memiliki pengetahuan yang minim akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Pengetahuan yang minim tersebut bermanifestasi dalam kurangnya minat masyarakat untuk menjadi guru ataupun mengikutsertakan anaknya dalam pendidikan anak usia dini. Hal ini berbeda dengan masyarakat luar negeri, dalam hal ini masyarakat Inggris umumnya, yang memandang pendidikan anak usia dini perlu dalam mengembangkan serta mengoptimalkan perkembangan motorik dan kognitif anak. Sehingga kebanyakan orang tua di Indonesia tidak mempunyai wawasan tentang perkembangan anak yang cukup sehingga banyak di antara mereka yang tidak menguasai dan menerapkan pendidikan anak usia dini di rumah. Bahkan mereka juga tidak mendapatkan pendidikan khusus tentang anak usia dini. Padahal seperti yang kita ketahui lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat krusial terhadap perkembangan kognitif dan motorik anak pada usia dini.
Sementara di Inggris, perkembangan industri serta tuntutan modernisasi yang memaksa orang tua untuk bekerja menyebabkan banyak institusi ataupun lembaga yang kemudian menyediakan pendidikan khusus bagi anak usia dini. Pendidikan ini ditujukan khusus untuk membantu perkembangan anak daripada tujuan akademis ataupun pemenuhan kurikulum. Bahkan pemerintah sendiri telah mencanangkan program khusus dalam menyukseskan dan mendukung program pendidikan anak usia dini, seperti melatih tenaga profesional, membantu dalam menyokong dana operasional, serta membantu pengadaan fasilitas yang diperlukan.
Sehingga dapat kita lihat bagaimana peran orang tua dalam mendukung perkembangan anak sejak dini meskipun pada dasarnya para orang tua tidak dapat secara langsung mendukung dan mengambil peran dalam perkembangan anak di usia dini. Bahkan pemerintah mengambil kebijakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan syarat yang harus dipenuhi seorang anak sebelum ia dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun pada akhirnya kebijakan ini ditentang oleh masyarakat dan tidak diterapkan kemudian.
Hal ini tentu berlawanan dengan kebijakan pemerintahan Indonesia yang kurang mendukung perkembangan anak usia dini di Indonesia. Apalagi penerapan kebijakan bahwa pendidikan anak usia dini dianggap bukanlah sebuah syarat dalam menempuh pendidikan sekolah dasar menyebabkan baik pemerintah maupun pihak swasta kurang “berhasrat” dalam mendirikan institusi-institusi pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Sehingga perlu adanya solusi yang diberikan untuk masalah ini antara lain:
1. Hendaknya kebijakan mengenai pendidikan anak usia dini dapat diupayakan agar lebih mendukung perkembangan institusi-institusi pendidikan yang mengelola pendidikan anak usia dini di Indonesia.
2. Perlu dibuat sebuah terobosan baru untuk mensinergikan semua potensi yang ada di dalam masyarakat dalam rangka tercapainya pendidikan anak usia dini yang utuh, menyeluruh, dan terintegrasi.






Anggota kelompok L:

15 April 2010

Rabu, 10 Maret 2010

Love Psychology :Tugas 3

Seperti pepatah bijak mengatakan," Lebih mudah bagi kita untuk mengerjakan apa yang disukai, daripada berusaha menyukai apa yang kita kerjakan....."
Tetapi, jika kita hanya melakukan apa yang kita sukai, maka kita tidak akan pernah mencapai suatu tahap pengembangan diri yang lebih baik.
So, buat teman-teman,,yuk kita mulai belajar menyukai apa yang kita kerjakan, karena saat kita belajar menyukai dan mencintai apa yang kita kerjakan, pasti hasilnya akan maksimal.
"Chayoooooo!!^^

11 Maret 2010
Desy Christina M


Kamis, 04 Maret 2010

Hasil Diskusi Kelompok L; Kuliah online NIM Genap

Bagaimana pandangan psikologi pendidikan terhadap pandangan bahwa media pembelajaran dapat mengakibatkan dehumanisasi pada siswa?

Jawab: Menurut kelompok kami, psikologi pendidikan memandang bahwa seharusnya tidak perlu terjadi apabila peserta didik dan pendidik itu sendiri dapat memandang bahwa manusia adalah individu yang memiliki kepribadian, motivasi, dan kemampuan pribadi yang berbeda. Karenanya penggunaan media pembelajaran modern ataupun tidak, haruslah tetap melalui pendekatan humanis. Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat
mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping
memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi
serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan
secara optimal agar proses pembelajaran dapat berangsung secara efektif. Dengan kata lain, siswa harus dihargai harkat kemanusiaannya dan diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.

Berdasarkan teori sistem oleh B.F Skinner yang menjadi dasar rancangan desain sistem pembelajaran dalam teknologi pembelajaran, bagaimanakah pandangan psikologi pendidikan akan kajian tersebut dan kehadiran psikologi pembelajaran didalamnya?

Jawab: Menurut kelompok kami, berdasarkan teori Skinner yang menjadi dasar pengembangannya, teori ini menghadirkan psikologi pembelajaran sebagai aplikasi dari nilai-nilai sistem belajar berbasis teknologi yang merupakan prosedur terorganisir yang meliputi : (a) penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari); (b) perancangan (proses penjabaran bagaimana cara mempelajarinya); (c) pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pelajaran); (d) pelaksanaan/aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi) dan (e) penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran). Psikologi pendidikan memandang bahwa dalam kajian ini Teknologi dan peserta didik haruslah berbarengan dan dapat disimulasikan secara simultan dengan sedemikian rupa agar dapat teraplikasi merata dan baik. Hal ini untuk menstimulasi pendidik dan peserta didik untuk “sadar” dan dapat membentuk citra personal yang membantu perkembangan proses belajar mengajar.


Di tengah berkembangnya sistem pembelajaran yang memadukan instruksi pengajaran “teacher-centered” dengan “learner-centered”, maka model pembelajaran manakah yang cocok untuk diterapkan?

Jawab: Sistem pengajaran yang memadukan instruksi pengajaran “teacher-centered” dengan “learner-centered” dilakukan guna mengatasi beberapa kekurangan dalam sistem “learner-centered”, misalnya kendala teknis seperti penguasaan peserta didik akan teknologi serta ketersediaan teknologi itu sendiri (ketersediaan laptop, situs pembelajaran, internet, dsb.). Sehingga diperlukan variasi dalam menerapkan modul pembelajaran untuk mendukung perpaduan instruksi pengajaran “teacher-centered” dengan “learner-centered”. Karena itu, menurut kelompok kami, ketiga jenis modul pembelajaran yakni modul pembelajaran langsung, koorperatif, dan modul pembelajaran berdasarkan masalah harus dipadukan. Modul pembelajaran langsung biasanya dipakai dala sistem “teacher-centered”, sedangkan modul pembelajaran kooperatif biasa diaplikasikan pada sistem “teacher-centered”. Modul pembelajaran berdasarkan masalah dapat diaplikasikan pada keduanya. Pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan pembelajaran berdasarkan masalah adalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin.
Variasi ketiganya dapat dilakukan dengan cara berikut: pada awal pertemuan, guru melakukan tanya jawab dengan peserta didik mengenai materi yang akan dibahas ataupun memberikan ceramah singkat mengenai materi yang akan diajarkan (modul pembelajaran langsung). Lalu guru memberikan sebuah pertanyaan esensial ataupun contoh kasus (modul pembelajaran berdasarkan masalah) yang akan dipecahkan oleh peserta didik secara berkelompok dengan menggunakan teknologi ataupun bahan literature yang dieksplor sendiri oleh mereka(modul pembelajaran kooperatif).


Referensi:
Munir.2008.Kurikulum Berbasis TIK.Bandung:Penerbit Alfabeta.
Santrock, J.W.2008.Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Jakarta:Kencana Prenada Media Group


http://sweetyhome.files.wordpress.com/2009/08/berkas-cooperative-learning2.pdf
http://model-pembelajaran.blogspot.com/2008/08/ragam-model-pembelajaran.html
www.freewebs.com/santyasa/pdf2/MEDIA_PEMBELAJARAN.pdf -

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/20/teknologi-pembelajaran/

http://e-pendidikan.com/a-v.html


Testimoni
Susi Trisnawaty 09-026
“Ini adalah hari yang sangat menegangkan karena keterbatasan laptop dan koneksi sehingga tidak dapat mengikuti kuliah on-line secara langsung, hanya bisa menatap dari belakang.”

Desy Christina 09-042
“Saya sangat tertantang atas kesulitan tugas yang diberikan pada hari ini. Tetapi, saya tetap semangat!!!!…
Terima kasih buat ibu yang telah memberikan tugas, dan terima kasih buat teman-tenan kelompok ku yang baik, karena telah membantuku..hehehe”

Antony 09-052
“Saya benar-benar bingung, sebenarnya saya merasa tertantang dan rasanya menyenangkan”

Margaretha Novitasari 09-076
“Awalnya sih merasa bingung, apalagi ditambah dengan koneksi internet yang kurang mendukung. Tapi pada akhirnya cukup menarik.”

Niputu Defi 09-090
“Menyenangkan sekaligus memabukkan”

Jumat, 26 Februari 2010

Tugas Proyek Kecil

Anak-anak yang berusia enam sampai sebelas tahun termasuk dalam periode perkembangan middle childhood atau masa kanak-kanak madya. Pada tahap ini, perkembangan anak tidak hanya berkembang pesat pada fisik saja, tetapi juga pada kognitif anak. Salah satunya perkembangan linguistik anak, yang mencakup penggunaan tata bahasa, kemampuan verbal, dan juga penguasaan kosa kata. Anak-anak usia sekolah dapat menerapkan aturan-aturan ketatabahasaan, seperti sintaksis, semantik, dan pragmatis. Kemajuan tersebut melibatkan peran serta orang tua serta tenaga pendidik yang mengajarinya. Namun, perkembangan linguistik anak juga tidak dapat dilepaskan dari penguasaan akan kosa kata. Sepanjang usia sekolah, penambahan kosa kata anak-anak terjadi tidak teratur. Anak lelaki memiliki lebih banyak kata-kata populer yang kasar dan kata-kata makian karena kata-kata tersebut dianggap sebagai pertanda kejantanan. Anak perempuan mempunyai kosa kata yang lebih banyak terhadap warna serta kegiatan yang mencakup penggunaan warna, seperti menata rumah boneka. Biasanya anak-anak mendapatkan tambahan kosa kata baru dari buku bacaan, pembicaraan dengan teman sebaya, serta melalui televisi.

Proposal yang lebih lanjut silakan klik Proyek

26 Februari 2010
Kelompok L:
091301026 Susi Trisnawaty
091301042 Desy C.M.
091301052 Antony
091301076 Margareth N.S.
091301090 Niputu Defi

Kamis, 25 Februari 2010

Generasi Ubiquitous Computing Terhadap E-learning;Tugas 2

A. Pengantar
Kehadiran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah banyak memberikan warna dalam kehidupan manusia. Perkembangannya yang begitu pesat, membuat manusia seolah – olah harus ”berlari” untuk mencapai berbagai kemajuan yang ditawarkan oleh IPTEK ini. Perkembangan itu bukan hanya berlangsung dalam hitungan tahun, bulan, atau hari, melainkan jam, bahkan menit, atau detik, terutama yang berkaitan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) yang ditunjang oleh teknologi elektronika. Istilah Teknologi Informasi dan Teknologi ini memberikan makan bahwa teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer ( perangkat keras dan perangkat lunak ) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Dengan kata lain, teknologi informasi lebih pada sistem pengolahan informasi, sedangkan teknologi komunikasi berfungsi untuk pengiriman informasi (information delivery) .
Setiap orang pasti telah merasakan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi yang ada. Misalnya, masyarakat dari berbagai macam usia dan golongan sangat dibantu dengan adanya informasi – informasi yang up to date , dari info dunia kesehatan, pendidikan, rohani, rekreasi, hobi, bisnis, dan masih banyak lagi, hanya dengan sekali ”klik”. Meskipun banyak hal positif yang didapat dengan hadirnya IPTEK, namun tetap saja pengaruh negatif , seperti pergeseran nilai moral, norma, tetap terjadi, yang
tentunya bertentangan dengan nilai yang dianut masyarakat.
B, Perkembangan Komputer
Selain IPTEK, kemajuan yang pesat juga terjadi dalam bidang elektronika, yang menyebabkan komputer juga mengalami berbagai perkembangan , sesuai dengan perannya sebagai perangkat utama dalam menjejaki dunia IPTEK.
Jika kita termasuk orang yang care terhadap keberadaan komputer, tentunya kita tahu bagaimana perkembangan perangkat ini, dari generasi ke generasi.
Generasi pertama menghadirkan komputer dengan ukuran besar , lambat, memerlukan pendingin yang kuat, serta memori yang tidak sebanding dengan ukurannya. Komputer generasi ini digunakan bersama – sama oleh banyak orang, dengan kata lain satu komputer untuk semua. Setelah itu muncul generasi kedua, yang merupakan era diaman kita berada sekarang, yaitu era Personal Computer (PC), yang artinya satu komputer untuk satu orang. Selanjutnya para ahli mencoba merancang satu generasi lagi yang disebut Ubiquitous Computing.
Apa itu Ubiquitous Computing ?
Secara harafiah, Ubiquitous berarti ”ada dimana-mana”. Jika digabungkan dengan kata Computing, maka makna ”kasar”nya komputasi yang ada dimana – mana. Istilah Ubiquitous Computing pertama kali dimunculkan oleh Mark Weiser, seorang peneliti senior pada Xerox Palo Alto Research Center (PARC) pada tahun 1988.
Ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realitas virtual menempatkan orang di dalam dunia yang diciptakan komputer, maka ubiquitous computing akan memaksa komputer eksis di dunia manusia.
Bila pada generasi pertama kita menemukan komputer dengan ukuran raksasa, dan digunakan secara bersama – sama (one computer for many person), dan pada generasi kedua perkembangan komputer, kita mengenal istilah Personal Computer (PC), atau satu komputer untuk satu pribadi, maka pada generasi ketiga, ubiquitous computing , kita menemukan, bahwa manusia dapat melakukan interaksi dengan banyak komputer (one person for many computer). Dengan kata lain, manusia dianalogikan sebagai computer client yang terhubung dalam satu server,
Bagaimana ini bisa terjadi? Sadar atau tidak, sebenarnya program generasi ketiga ini telah di masukkan secara perlahan – lahan dalam lingkungan masyarakat. Misalnya, kegunaan komputer sudah dapat kita lihat melalui fasilitas yang tersedia didalam handphone, televisi, tape recorder, mesin cuci, mobil, eskalator / lift, mesin ATM, dsb, menunjukkan bahwa ubiquitous computing mulai merambah dalam lingkungan masyarakat, meskipun masih dalam skala yang kecil.
C. Ubiquitous Computing dalam Dunia Pendidikan
(e-learning)
Seperti halnya IPTEK, TIK, dan komputer yang terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, demikianlah juga halnya dengan dunia pendidikan yang selalu mencoba menciptakan program – program dan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan maksud untuk meningkatkan kualitas para generasi muda (pelajar/mahasiswa). Hal ini tentunya bertujuan untuk melahirkan lulusan – lulusan yang siap bersaing dengan tuntutan IPTEK yang ada, serta memiliki life skill yang telah menjadi syarat penting dalam dunia pekerjaan.
Kehadiran e-learning dalam dunia pendidikan, menjadikan proses belajar – mengajar menjadi sesuatu yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Kata ”e” pada e-learning berarti elektronik, sedangkan learning merupakan suatu pembelajaran yang sering dikaitkan dengan dunia pendidikan. Oleh sebab itu, e-learning merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan media elektronika. Misalnya melalui komputer, cassete tape, televisi, video, dsb. Ciri khas e-learning adalah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembelajaran dapat dilakukan dengan mengakses informasi kapan saja dan dimana saja, melalui teknologi informasi yang tersedia melalui jaringan internet.
Sebagaimana yang kita ketahui selama ini, keberhasilan e-learning sangat dipengaruhi oleh daya beli pendidik dan peserta didik, dengan menyediakan komputer, laptop , modem untuk mengakses informasi melalui internet. Hal ini tentunya sulit untuk disediakan oleh pendidik maupun peserta didik.
Masalah ini dapat dijawab dengan kehadiran ubiquitous computing, dimana perangkat computer baru ini diyakini lebih cocok untuk pendidikan, dibandingkan dengan Personal Computer (PC). Perangkat baru ini dapat disediakan kepada lebih banyak murid daripada komputer dekstop, serta dipasangkan dengan jaringan yang murah, dan dapat memampukan peserta didik untuk membawa perangkat ini ke lapangan dalam membantu menyelesaikan suatu tugas dan bisa dibawa pulang, sehingga pemakaiannya tidak dibatasi oleh tempat.
Oleh karena itu, kehadiran generasi ketiga ini sangat membantu dalam pelaksanaan program e-learning . Kesuksesan dalam pelaksanaane-learning juga turut mensukseskan sistem pendidikan yang ada.

Kamis, 25 Februari 2010
Desy Christina M
Daftar Pustaka
1.Munir.2008.Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.Bandung:CV Alfabeta.
2.Santrock,John W.2008.Educational Psychology.New York:McGraw-hill Company,Inc.